dia bersepeda membelah jalan setapak, lentera sepedanya terlalu redup dibandingkan dengan pekatnya malam hari itu, tak pernah terbayangkan suatu hari dia akan sebebas ini, bernafas selepas ini..
di tengah lamunannya dia melihat tangannya yang semakin mengeriput, dia tahu dia semakin tua, semakin renta
di kebun itu dia berhenti, tatapan nanarnya berkeliling, sekalipun kantung matanya menebal, tapi tatapannya tetaplah setajam saat dia masih berusia belasan, menelanjangi setiap sisinya, menjamahi setiap jejak yang dia khusyuki, seperti di saat dia ibadah.
ringkih... kakinya memang lemah, namun dapat dengan lincah bergerak di sela dedaunan. langkahnya terdiam, dia tahu benar dimana dia harus berhenti, mengambil nafas sejenak,. mencari suaranya yang hilang..
"negerimu sudah kotor kembali, jenderal"
kata-kata pertamanya, kepulan asap rokoknya membumbung, tebal, setebal apa yang ada difikirannya.
"tangan ini sudah lemah, jenderal, tak perlu lagi aku memegang senapan untuk negara ini, memegang cangkul pun aku sudah tidak sanggup"
"andai engkau menjadi aku, jenderal.. apa yang akan kau lakukan?"
tak ada suara balasan, jenderal hanya terdiam, bahkan cicak yang biasa berdecak hanya ikut menyimak,
"negerimu kembali kotor, jenderal"
"bukan kotor oleh darah para pejuang, bukan kotor karena lumpur, dan abu para pahlawan!"
"negeri kami kotor, jenderal! oleh darah rakyat kita, yang terbuang karena tak sanggup membiayai kesehatannya. oleh lumpur yang dilempar oleh pimpinannya. dan abu yang berserakan berasal dari rumah mereka!"
sang jenderal masih terdiam, dan malam hening terikat sunyi mendengar teriakan si kakek tua.
"negeri kami kembali kotor tuan!"
"bukan karena air mata doa yang dilafalkan memohon kebebasan, tapi air mata yang dielukan karena kelaparan"
"ini negeri kami, jenderal,, ini negara yang kita perjuangkan dulu, ini hasil dari tebusan darah kita, jenderal"
"negeri kami kembali kotor, oleh kemunafikan, oleh kemalasan, oleh kesombongan dan juga keegoisan!"
"ini negara yang engkau perjuangkan melalui nyawamu, jenderal. menangiskah engkau disana, jenderal?!"
kakek tua menangis, dia tahu dia telah kehilangan segalanya, kehilangan sahabatnya, keluarganya, bahkan yang kini bersama dengan jenderalnya yang tenang bersemayam di bawah sana, atau mungkin telah berpindah ke atas sana.. entah...
ditatapnya kembali tangan keriputnya, dengan mata sayu, dia berkata..
"tangan ini sudah renta, jenderal. tangan ini sudah renta..."
"dan negeri kami kembali kotor ya, Jenderal!"





0 comments:
Post a Comment