gadis kecil berjubah merah menari, dan aku menulis puisi,
memperhatikan dia yang di luar terlalu senang di tengah latar yang kelabu,
mungkin hanya aku yang tidak senang dengan cuaca seperti ini, menyedihkan.
ditambah duduk sendirian di tengah ruangan kafe berhiasan klasik, dengan penyanyi latar yang entah meraung atau berbisik,
perbedaan usia mungkin memang memberi jarak,
pemikiran atau perasaan, hujan menjadi panggung tari dan tawa beriringan,
tapi sekarang, hanya tetes dingin dan gigil beku yang menahanku berada di bawahnya.
setiap hal di tengah hujan akan berakhir menjadi kenangan,
tapi, apa yang akan kau kenang dari hal tidak berguna seperti hari ini.
'kau sedang menulis apa?'
gadis kecil berjubah merah tiba-tiba di sampingku, iya, gadis berjubah merah yang kulihat sedang berlarian di luar, sekarang berada disini
aku harap dia bukan hantu yang tiba-tiba memilih menghampiriku dari sejumlah orang yang lebih luang untuk ditakuti.
'bajumu basah, apa tak apa kau masuk kesini?
dia menggeleng, lugu, matanya terus menatapku, tidak lembut, tapi tidak menusuk
matanya berkeliling, memperhatikanku, tepatnya puisi yang aku tulis
tanpa ekspressi dibacanya satu persatu kalimat tanpa jeda
tanpa nada, tanpa irama
'puisi, kau suka?'
'tidak, puisi yang kau buat... suram'
aku terdiam,. suram?
ada yang salah dengan puisi suram?
inilah yang orang biasa cari, bukan?
sisi gelap yang mencerminkan perasaannya di tengah kepura-puraannya
bukankah itu yang biasa dicari orang di tengah halaman puisi
mencari sampul yang apik, hanya untuk mencari halaman yang gelap.
'kau suka puisi tentang apa?'
'hal yang menyenangkan.. coklat, awan, pelangi, uhhmm.. dan cinta'
aku tergelak, cinta?
mungkin pengaruh media jaman sekarang benar-benar berhasil menjadi sugesti,
bagaimana anak kecil yang seharusnya memahami tentang permainan, atau makanan enak menjadi begitu fasih mengucap cinta?
sedang aku masih berbelit mengeja marsimelow, masmelow, marsh... ah.. sudahlah.
'kau masih kecil, mungkin yang kau tahu cinta itu menyenangkan, tapi setelah kau semakin dewasa, kau akan tahu cinta tidak semenyenangkan itu, kau masih harus bersepakat dengan rasa sakit, kecewa, dan salah satu hal yang tak kau suka dari puisi ini, yaitu, kesuramannya'
dia terdiam, matanya menatapku,
entah apa yang dia lihat dari tempat duduknya sekarang
orang yang naif tentang cinta dan menjelaskannya seperti mengajarkan rumus kuantum kepada anak kecil yang bahkan belum genap sepersepuluh abad?
aku mungkin benar-benar terlalu lelah
'tapi buatku cinta itu menyenangkan, aku bisa dapet jubah merah ini karena papa mama mencintaiku, aku dapat belajar baca seperti tadi, karena guruku mencintaiku, dan aku dapat masuk ke kafe ini tanpa dimarahi juga karena orang-orang di kafe ini mencintaiku, bukankah menyenangkan kalau cinta bisa buat kita dapetin apa yang kita mau, buat kita belajar jadi lebih baik..'
'kau yang belum mengerti apapun, lebih baik diam!'
kali ini giliran orang-orang di ruangan ini yang melihatku,
mungkin mereka berfikir aku terlalu gila karena berdebat dengan anak kecil,
'maaf, aku tak bermaksud,. mungkin kau benar cinta memiliki dua sisi tersebut, dan aku hanya ingin meninggalkan sakitnya'
'meninggalkan cinta memang membuat rasa sakit jadi hilang, tapi di saat yang sama mungkin kakak juga harus bersiap rasa bahagianya akan meninggalkanmu...
aaaa.. aku harus pergi mama sudah menjemput, daaghh kakak cantik yang suram'
dia mengambil payung pelanginya, menyalami para pegawai satu persatu
tersenyum lebar, dan meninggalkanku sendirian.
aku menyesap minumanku sejenak, melihatnya melompat-lompat kecil di udara.
di tengah hujan, aku tak pernah menyangka kejadian akan benar-benar menjadi kenangan..
hingga sekarang.

