"Masih bertahan dengan keadaan??"
Aku terdiam, sedikit menepi ke jendela.. Menghela nafas dan berfikir..
Syukurlah kita masih berada di langit yang sama,
Setidaknya aku tak perlu menunggu waktu untuk tahu kau sudah terlelap saat aku baru menyambut hari..
Syukurlah masih di langit yang sama..
Kuteguk sedikit air putihku, tidak berwarna, dan hambar. Tapi akan kucanangkan sebagai minuman paling melegakan yang pernah ada..
Setidaknya itu yang kurasakan
"kamu ngga pernah merasakan rindu?"
Aku tersenyum..
"rindu? sahabat terbaikku sekaligus musuh terbesarku?"
Kau tak pernah tahu berapa kali aku mencoba mengalahkan rindu. bahkan sebelum kekasihku pergi, dan masih di hadapanku, aku sudah kalah satu kosong, sekarang? berikan selamat padaku, sang pecundang. Iya.. Pecundang yang selalu kalah oleh rindu, karena sekarang poinku menjadi seribu kosong.. dan masih akan terus bertambah sampai seluruh rinduku tercurah.. Ah.. Pecundang.. Sial sekali aku mengatakannya kepada diriku sendiri
"dan masih terus bertahan? sampai kapan?"
"sampai ada yang menggali jurang lebih dalam"
"ha?"
"Apa yang harus aku lakukan selain bertahan? Menyerah? Untuk apa? karena pada akhirnya aku hanya akan jatuh di hati yang sama.. Percuma"
"kau yakin?"
Aku hanya terdiam, melihat langit sama, dan berfikir, bagaimana matahari di sana.. Kuketikkan jariku cepat di ponselku, menuliskan hal yang sama dan kukirimkan ke nomor yang sama, setiap harinya.. 'love you always'
Dan kini aku melihat matanya dan tersenyum..
"aku yakin"
Aku terdiam, sedikit menepi ke jendela.. Menghela nafas dan berfikir..
Syukurlah kita masih berada di langit yang sama,
Setidaknya aku tak perlu menunggu waktu untuk tahu kau sudah terlelap saat aku baru menyambut hari..
Syukurlah masih di langit yang sama..
Kuteguk sedikit air putihku, tidak berwarna, dan hambar. Tapi akan kucanangkan sebagai minuman paling melegakan yang pernah ada..
Setidaknya itu yang kurasakan
"kamu ngga pernah merasakan rindu?"
Aku tersenyum..
"rindu? sahabat terbaikku sekaligus musuh terbesarku?"
Kau tak pernah tahu berapa kali aku mencoba mengalahkan rindu. bahkan sebelum kekasihku pergi, dan masih di hadapanku, aku sudah kalah satu kosong, sekarang? berikan selamat padaku, sang pecundang. Iya.. Pecundang yang selalu kalah oleh rindu, karena sekarang poinku menjadi seribu kosong.. dan masih akan terus bertambah sampai seluruh rinduku tercurah.. Ah.. Pecundang.. Sial sekali aku mengatakannya kepada diriku sendiri
"dan masih terus bertahan? sampai kapan?"
"sampai ada yang menggali jurang lebih dalam"
"ha?"
"Apa yang harus aku lakukan selain bertahan? Menyerah? Untuk apa? karena pada akhirnya aku hanya akan jatuh di hati yang sama.. Percuma"
"kau yakin?"
Aku hanya terdiam, melihat langit sama, dan berfikir, bagaimana matahari di sana.. Kuketikkan jariku cepat di ponselku, menuliskan hal yang sama dan kukirimkan ke nomor yang sama, setiap harinya.. 'love you always'
Dan kini aku melihat matanya dan tersenyum..
"aku yakin"

