apa yang kau lukis itu? jingga?
kau membawa kanvas besar sebagai awal pertemuan, dan akan kau bingkai, katanya..
barisan palet dan kuas kau tata apik, terkadang kau harus mengukur derajat, tepat. bahkan anginpun sempat kau sentak karena sempat bermain dengan bulu kuasmu.
kau bilang akan melukis, kau berbohong... kau sedang bercinta, dengan matamu kau menelanjangi liar kanvasmu, menemukan sudut yang tepat untuk memulai, menghayati proses intimmu dengan lukisanmu.
hitam, kuning, dan merah.. jingga, kau mengilhami setiap jengkalnya seperti akan mencipta mahakarya, walau tak semegah saat Tuhan mencipta semesta, aku tahu kau ingin membuatnya begitu sempurna. iya, mungkin kau memang sedang bercinta.
apa yang kau lukis itu? luka?
kau kini terlalu sering terdiam, melamun, dengan pandangan sayu. terlalu sering kau abaikan kanvasmu, jangankan untuk melakukan ritual khusyuk seperti saat kau pertama membelinya, bahkan untuk sekedar membuka kain putih dan menyisipkan salam pun tak pernah.
mungkin kau sudah tak bisa menggenapi warnanya, entah karena bau cat menusuk atau rasa yang sudah semakin busuk. kau menangis hening, lalu tertawa hambar, mungkin memang sudah gila karena lukisan yang tak kunjung selesai.
jingga atau luka? semua sama saja..
kini kanvas hanya onggokan sampah yang meringkuk rindu, mengharap cemas sentuhan pelukisnya diatas tumpukan debu.
kanvas tak berfigura, hanya ada torehan jingga, sebuah warna luka...

0 comments:
Post a Comment