bukit ini, bukit yang tak jauh dari kotaku. aku tahu kau ke bukit ini, beberapa hari aku mencoba menghubungimu tetapi masih tak ada satupun jawabnya, mungkin aku yang salah telah mengacaukan segalanya, ketika yang aku harap semua akan sempurna, dan yang aku terima hanya penyesalan, tanpa ada kesempatan.
masih aku mengingat beberapa bulan yang lalu tepat jam satu dini hari, seseorang yang datang dengan setengah nafas terengah, seakan ada yang dia buru, aku menatapnya lama.
"aku mencintaimu"
"maaf?"
"aku mencintaimu, oh iya, bisakah aku meminta segelas minuman?"
spontan saja aku tertawa, bagaimana bisa manusia ini sekonyol ini, mungkin mengundangnya untuk masuk ke rumahku adalah salah satu kesempatan terbesar yang pernah dia ciptakan, dan memberikannya segelas minuman adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan karena yang dia datangi saat itu bukanlah hanya rumahku, tetapi mimpiku, doaku, dan hatiku, dan yang aku berikan padanya bukanlah hanya segelas air putih tetapi sebuah pembuka sumpah, untuk mencintainya.
dia bukanlah seseorang yang bisa aku deskripsikan dengan mudah, dia bukan seseorang yang bisa membuatmu tertarik bila hanya melihatnya sekedar saja, dia benar-benar terlalu menarik, dan yang aku harapkan hubungan kita semenarik dirimu.
.....
"aku menemani sahabatku, dia sedang mempersiapkan diri untuk sidang, dan aku harus memberikan semangat padanya, kamu ngga marah kan?"
aku tersenyum, bukan kali ini saja kau menceritakan tentang sahabatmu, iya, tentang dia, tentang seseorang yang sudah menemuimu terlebih dahulu, mengenalmu terlebih dahulu, menggenggam tanganmu terlebih dahulu, dan kau tak pernah sedikitpun bertanya apa aku pernah cemburu, tapi mana mungkin aku akan cemburu pada waktu yang telah memilihnya untuk bersama denganmu terlebih dahulu, seandainya kau tahu, seandainya saja kau tahu.
pernah suatu hari kau bercerita tentang kisahmu, tentang restoran kesukaanmu, tentang masa kecilmu, dan yang tak kau sadari kau selalu menyisipkan namanya pada setiap kisahmu, dan yang kau tak pernah tahu kau lebih tertarik pada kisahmu dengannya, daripada kisahmu denganku, daripada kisah tentang kita.
bosankah aku? tentu saja, hingga seseorang datang dan tertarik dengan semua kisahku, tanpa harus kutambahkan namamu bahkan namanya disana dan mungkin inilah kesalahan terbodohku
"aku harus menemani ibuku shopping"
kebohongan pertamaku
"aku sedang capek, ngga bisa keluar"
kebohongan keduaku
"aku ada reunian sma"
kebohongan kesekianku, dan mungkin Tuhan terlalu lelah untuk menolerir segalanya, hingga semua rahasiaku tertumpah ruah saat itu.
kau tiba-tiba menelfonku dengan nada gemetar, ada yang tidak beres, pasti ada yang tidak beres
"bisakah kita mengakhirinya"
firasatku benar, kali ini aku yang gemetar
"aku mengetahui semuanya, dengan siapa kau bersama, saat kau berbohong kepadaku, aku tahu dari sejak lama, tapi aku menahan diri, dan berharap kau tersadar, aku masih disini, dan aku masih mencintaimu, tapi tampaknya semua percuma"
kau mengatakan semua dengan pandangan menunduk, tak kau perbolehkan lagi aku melihat matamu, sebuah jendela dimana aku bisa melihat utuh jiwamu, tapi, tanpa harus aku melihatnya pun aku tahu, kau hancur, dan aku yang melakukannya, aku yang menghancurkannya. kau masih mengatur nafasmu disana, sama saat kau pertama kali kau mengucapkan cinta, namun bedanya, dulu kau memaksa untuk datang, dan sekarang kau memaksaku untuk pergi.
tenggorokanku tersendat, otakku berputar, tapi tak bisa aku temukan kata yang tepat, rasanya ingin aku gali semuanya untuk menemukan sebuah alasan, di tengah kesibukan jantungku untuk mengatur dirinya, aku baru tersadar kau telah pergi, bukan saja pergi dari tempat ini, tapi pergi, benar-benar pergi, dan aku menangis.
aku kehilanganmu
aku kehilanganmu
.....
di bukit ini, kau pernah bercerita merupakan tempat favoritmu, dan aku telah melihatmu, dan melihatnya memandangmu lekat, ada sesuatu yang tak pernah kau sadari disana, ada perhatian, yang beserta penantian, rasanya ingin aku yang menyambut tanganmu, sebelum dia yang meraihmu, namun jarak berupa ketidakpedulianmu terlalu jauh untuk aku lewati, aku masih mencintaimu dalam jarak yang berbeda, dengan isyarat yang berbeda.
kini tak adalagi tawamu dalam tawaku, mimpimu dalam mimpiku, kisahmu dalam kisahku
kita telah menjadi sebuah kisah yang berbeda
dan aku menyesal


0 comments:
Post a Comment