aku masih berada di tempat yang sama dari setahun yang lalu kau membawaku, bukit yang tak terlalu jauh dari kota, disini kau dan aku berdua, sempat tak terfikir olehku, kau akan membawaku kesini, menelfon malam-malam hanya untuk menemanimu, walaupun aku sudah terbiasa, kau bahkan bisa datang ke rumahku jam 2 pagi hanya untuk mengatakan bahwa pernyataan cintamu diterima oleh gadis pujaan hatimu.
"dinginkah?"
"iya, komandan. dan saya sudah mengantuk"
"hahahaha.. maaf"
aku memanggilnya komandan, jelas saja seolah semua hal yang dia perintahkan harus dituruti, tidak ada pilihan iya atau tidak, bukan berarti dia otoriter, hanya saja dia bisa menarikku ke tempat yang tak aku duga, tanpa aku bersiap untuk siaga, ini tak adil.
"hei, komandan. tak bisakah kau bercerita sekarang?"
kau mengela nafasmu untuk kelima kalinya, dari 30 menit yang lalu kau mendiamkan aku dan membiarkan aku menghitung helaan nafasmu, bagus sekali. aku tahu bahwa ada yang tak beres, sama seperti biasanya bahkan kau bisa mendiamkanku selama berjam-jam bila kau mau, sudah kubilang kau ini tak adil.
sekarang kau mengambil sepuntung rokok dari kantongmu, sedikit terbesit di fikiranku apa masalahmu sebesar itukah? hingga kau memutuskan untuk mengambil benda itu, sementara kau tahu bahwa aku paling tidak suka dengan asapnya, bisa aku simpulkan bahwa masalahmu benar-benar besar hingga kau sudah tidak peduli dengan apa yang tak aku suka.
"aku putus"
kata pertamamu, setidaknya tentang dia, terkadang aku tak perlu mengiringi kisahmu, bertanya tentang kalimat selanjutnya karena kau tahu apa yang ingin kau ungkapkan, hanya saja kebetulan akulah yang kau jadikan tumbal untuk mendengar semua kisahmu.
"aku melihatnya bersama dengan pria lain, pertama aku tak peduli, tetapi mungkin memang sudah jalannya"
jalan? aku tak mengerti konsep perjalanan bagimu, apakah sebuah jalan bagimu itu sangatlah lurus tanpa ada tikungan, jegalan, jadi kau tak bisa memilih jalanmu, dan bila di ujung jalan sana yang ada hanya kebuntuan apa yang akan kau lakukan? diamkah? berpura-pura tersesat? jalanmu pastilah memiliki banyak cabang, hanya saja kau memilih rute tersulit, dan mungkin kau memilih untuk membuat jurang sendiri di depanmu, dan kau memilih untuk terjun ke dalamnya, wahai, komandan, kau sudah kehilangan akalmu.
kau sudah tenggelam dalam kepulan asapmu, seolah setiap kepulan asap itu menyimpan sedikit memorimu tentangnya, tentang kalian, bahkan aku tak bisa menyisipkan sedikit suaraku di tengah keheninganmu,.
"aku sempat bertanya pada diriku sendiri, bila dia memang mencintaiku tak mungkin dia menduakanku, lucunya saat aku hanya dijadikan pilihan olehnya aku hanya bisa terdiam, dan berfikir dalam waktu yang lama untuk benar-benar mundur, bodohkah aku?"
"tidak, kau hanya sedang jatuh cinta"
"tapi, cinta tak akan membuat orang menjadi bodoh kan?"
"jadi sekarang kau sudah merasa cerdas?"
pertanyaanku membuatmu kembali ke diammu, ke pertapaanmu, seolah ragamu adalah sebuah ruang, dan kau terdiam di dalam sana, berfikir apakah ada yang salah dengan keputusanmu, kau salah untuk memutuskan atau salah dalam memilih orang. kini kau matikan rokokmu pertanda bahwa kau memang telah menyelesaikan semuanya ceritamu, dukamu, dan tentangnya.
"bagaimana rasanya merokok?"
"menyenangkan, melegakan, sampai kau tak tahu efeknya nanti"
"sama seperti cinta kan? menyenangkan hingga kau tiba di saat paling menyedihkan"
"kau tak ingin bercerita? aku sudah lama mengenalmu, tapi tak pernah kau bercerita tentang kisahmu"
kini, aku yang terdiam, menggeleng, dan melihat langit yang mulai beranjak merah, aku tak pernah menceritakan kisahku, karena terlalu tertutupi oleh kisahmu, bukannya aku tidak memiliki kisah, hanya saja terlalu monoton dan membosankan, untuk sekarang aku akan membiarkanmu menceritakan semua kisahmu, hingga kau bosan untuk membuat kisahmu sendiri, dan saat itu tiba aku akan menuliskan tinta namaku dalam kisahmu, membuatnya menjadi babak baru dan menjadikannya kisahku, dan sekarang apakah kau harus bertanya siapa yang lebih bodoh di antara kita?
"sudah pagi, kau masih mau disini?"
kau menggeleng, berdiri dan mengulurkan tanganmu, seolah kau tahu bahwa aku ingin menggapai tangan itu, dan meninggalkan tempat ini, tempat yang sama, dengan perasaanmu yang telah berbeda, namun perasaanku yang masih sama, dari setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, bertahun-tahun yang lalu.
"aku masih menunggu kisahmu, lho, ya."
"aku juga masih menunggu kisahku"

0 comments:
Post a Comment