‘sudah selesai, bik?’
‘woi nyet, numpang aja, nggak ada niat bantu ha?’
Kuacak rambutnya, persis seperti taman yang baru saja harus
aku bereskan. siapa suruh dia duduk diam disini sedangkan aku harus
membersihkan taman sendirian karena bibik sedang pulang kampung meninggalkan
taman dengan entah apa kusebut saja itu hutan rimba.
‘hahahaha, sudahlah duduk sini, lama tidak berbicara berdua
kan?’
‘teh? manisnya sahabatku ini, untukku?’
‘mana mungkin,teh itu untukku’
‘ha-ha.. jadi sekarang sudah berani mengobrak-abrik dapurku’
‘kau bilang itu dapur? Aku kira gudang, saking ngga ada barang
yang bisa disebut makanan’
Entah aku sebut dia sahabat atau jin penunggu rumah,
keberadaannya di rumah ini melebihi penunggu rumah itu sendiri, bahkan dia
lebih mengetahui posisi benda-benda di rumah ini daripada aku, pernah suatu
hari dia masuk ke rumahku dengan buru-buru dan mengambil palu yang
asal-muasalnya entah darimana, saat aku tanya benda itu dapat darimana, dia
dengan santai bilang itu dari gudang sambil ngeloyor pergi, tapi yang paling
membuat aku kaget bukan karena dia yang keluar masuk tanpa izin, tetapi kenapa
dia bahkan tahu barang apa saja yang ada di gudangku??!! Sejak saat itu aku
mulai mengunci kamar tidurku, dengan double secure system, takut-takut kalau
seandainya dia sudah punya kunci cadangannya.
‘menurutmu apa itu cinta?’
‘ciyyeee…si monyet ngomongin cinta, lagi cinta monyet, nyet??’
‘seriusan ini bik’
Kali ini rambutku yang diacaknya.
Kuseruput sedikit tehku, walaupun itu teh buatannya dan
diklaim miliknya. namun karena cangkir, kantung teh dan air panasnya milikku,
jadi secara de yuro aku masih tetap mengklaim secangkir teh itu milikku.
‘cinta….’
Kuhela sedikit nafasku, mungkin memejamkan mata akan membuat
ini lebih puitis, entahlah…
‘cinta itu seperti
sebuah puzzle, dengan banyak kepingan di setiap bagiannya. setiap perasaan
cinta kita ke seseorang diumpamakan seperti sebuah kepingan, dan bila kekurangan
satu saja kepingan, maka hidup kita akan seperti tidak sempurna, mengganjal,
kosong. Entah kau sebut itu apa’
Kali ini aku menarik nafas lebih panjang, kata-kata yang
sudah terlalu lama terendap, hingga aku harus menggali jauh ke dalam untuk
mencerna kalimat yang sudah berkarat di otakku.
‘cinta kepada Tuhan, cinta kepada ayah, ibu, saudara, teman,
dan seorang asing, yang kita sering menyebutnya sebagai jodoh, yang entah
kenapa masih terdengar absurd untukku. dan terkadang ketika kita merasa
menemukan kepingan terakhir, namun ternyata pada akhirnya dia datang secara
tiba-tiba seperti anak kecil lalu mengobrak-abrik semuanya, melemparkan
kepingannya jauh… terlalu jauh untuk dijangkau, dan lalu dia pergi, bersama dengan
pelengkap cinta itu sendiri. pada akhirnya, kita kembali kosong, kembali lemah,
entah harus mencari kepingan yang hilang dan membiarkan puzzle yang telah
berantakan, atau membereskan kembali kepingan-kepingan kecil itu dan menunggu
seseorang untuk melengkapinya lagi, dan begitu seterusnya’
Kali ini aku menoleh ke arahnya, menatap serius wajah yang
dari tadi terheran-heran mendengarkanku.
‘dan sekarang, aku sudah lelah untuk menyusun puzzle itu
lagi’
Kuminum teh yang menganggur itu lagi, meminumnya seolah itu
bir atau sejenisnya, seandainya kafein bisa membuat mabuk, mungkin kali ini aku
ingin mabuk dengan tenggelam di lautan kafein dan meninggalkannya dengan duniaku sendiri,
bersama dengan tehku, dan lamunanku, yang entah apa yang aku lamunkan,
sudahlah..
‘dasar pesimis’
‘dasar sinis, tadi kau meminta pendapatku. teh lagi??’
‘kamu sudah menghabiskan tehku sih, jadi aku buat lagi, dan
kali ini aku buatkan untukmu juga, mana terima kasihmu?’
‘kalau menurutku cinta itu seni’
Kali ini dia yang mulai terkungkung di dunianya, dan dunia
tehnya… semoga dia tidak mabuk…
‘sama seperti lukisan abstrak, ada yang bilang bahwa lukisan
abstrak itu sangat indah, tapi ada juga yang mencemooh lukisan abstrak itu
seperti lukisan anak TK, tak ada yang benar-benar bisa dibanggakan, tapi
bagaimanapun itu tetap seni, tak ada yang memaksa untuk melihatnya sebagai
keindahan, dan seburuk apapun, akan selalu ada seseorang yang merasa itu tetap
luar biasa.’
Ternyata dia sudah mabuk…
‘sama seperti cinta, terkadang ada yang saling membenci,
cemburu, menjahati satu sama lain semua karena cinta, ada yang menangis, ada
yang memilih mengakhiri nyawa semua karena cinta, namun di sisi lain akan ada
yang tertawa, akan selalu ada yang berdebar, tersenyum, menyusun angan angan,
itu semua karena cinta, tak ada yang bilang semua akan selalu indah, tapi tidak
semua sisinya pahit’
‘terlalu romantis’
‘kamu yang terlalu pesimis’
‘aku realistis, kamu yang terlalu romantis’
‘aku optimis, bukan romantis, kamu yang pesimis’
‘realistis!’
‘optimis!’
‘ah.. sudahlah.. mari angkat gelas, dan bersulang untuk si pesimis
ini’
‘jadi kau mengakuinya, manusia pesimis? Baiklah… mari
bersulang juga untuk si romantis yang ada di hadapanmu ini’
Kita tertawa, sambil mengadu cangkir teh kita yang bahkan hampir
kosong, iya, tawa untuk percakapan teh yang paling menyenangkan yang pernah
kita lalui.
Ah, Seandainya aku bisa mabuk…


0 comments:
Post a Comment